menu

Scriptnya panjang sob

Selasa, 25 September 2012

nazhafah, thaharah, dan tazkiyah


nazhafah, thaharah, dan tazkiyah


A.   PENGERTIAN NAZHAFAH, THAHARAH DAN TAZKIYAH
Ibadah Mahdah adalah penghambaan murni mengandung arti mendekatkan diri kepada yang diibadati yaitu Allah. Bersuci adalah menghilangkan sesuatu yang di anggap kotor.
Kotor bendawi atau materi berdasarkan agama di sebut najis. Najis wajib di sucikan dengan Istinja. Kotor berdasarkan estetika seperti kotoran lumpur, tahi mata, ingus, dan keringat. Suci dari kotor tidak menjari syarat ibadah ritual hanya menjadi anjuran dan dapat dibersihkan dngan proses tazkiyah.
Jadi, orang yang sedang berlumuran keringat lalu melakukan shalat, shalatnya sah karena tidak termasuk kotoran najis. Dalam Al-qur’an bersuci bentuk nazafah ini tidak ditemukan mungkin hal ini akan dipersilahkan kepada akal fikir masing-masing. Nazahafah seperti bersuci dari najis, hadats, dan dosa.
*      Kotor peristiwa/kejadian
Disebut hadats atau kasus kotor ini bukan terletak pada bendanya melainkan pada kejadiannya seperti kentut, dan sebelum melakukan ibadah ritual seperti shalat atau thawaf maka harus berwudhu dulu terlebih dahulu. Taharah lebih cenderung kepda bersuci dari najis dan hadats.
*      Kotor Rohani
Disebut dosa terjadi akibat manusia meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Kotor ini hanya dapat disucikan dengan taubat, yakni mengakui kesalahan di hadapan Allah da kembali ke jalan yang benar. Tazkiyah lebih cenderung pada makna kesucian jiwa.

B.   WUDHU DAN MANDI
Wudhu artinya menghilangkan hadats kecil, dengan membasuh beberapa anggota tubuh tertentu dengan niat.
Mandi adalah menghilangkan hadats besar dengan meratakan air keseluruh tubuh dan dibarengi dengan niat.
Firman Allah yang berartikan;
“ Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basulah mukamu dan tanganmu smapai dengan siku dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS.5/Al-Ma’idah;6).

C.   WUDHU UNTUK IBADAH LAIN
Wudhu bagi yang berhadats kecil:
*      Shalat, baik shalat wajib atau shalat sunnat, shalat jenazah hadis Nabi SAW “Allah tidak menerima shalat seseorang tapa thaharah (bersuci).
*      Thawaf yakni mengelilingi ka’bah 7 putaran, baik yang wajib maupun yang sunnat.
*      Menyentuh mushaf, yakni memegang Al-qur’an.
Sementara wudhu juga dianjurkan untuk amal-amal berikut:
*      Dzikir kepada Allah
*      Hendak tidur
*      Junub, orang yang sedang berhadats besar, selesai melakukannya lalu hendak makan / minum dsb. Dianjurkan wudhu, demikian halnya kalau selesai melakukannya lalu hendak mengulanginya lagi maka disunatkan berwudhu terlebih dahulu.
*      Sebelum mandi junub (mandi menghilangkan hadats besar).
*      Sudah memakan makanan yang dibakar seperti sate.
*      Unutuk memperbaharui wudhu bagi setiap shalat artinya masih mmpunyai wudhu (belum batal), lalu mau shalat berikutnya, dianjurkan wudhu lagi.

D.   BATAL WUDHU
Suatu kejadian atau peristiwa yang menjadikan wudhu seseorang hilang, disebut juga hadats kecil atau suatu kejadian yang pelakunya tidak dapat melakukan ibadah yang di syaratkan wudhu.
Batal wudhu :
*      Keluar sesuatu dari salah satu dua pintu qubul dan dubur seperti :kencing, madzy, wadiy, maniy, angin, kotoran.
*      Hilang akal (kesadaran) : tidur lelap, mabuk, gila, pinsan ayan.
*      Menyentuh qubul dan dubul manusia tanpa penghalang.
Adapun bersentuh kulit laki-laki dan perempuan, keluar darah dari luka badan, muntah, memakan sate unta, batuk ketika shalat, memandikan jenazah.

E.   HADATS BESAR DAN MANDI
Seperti yang telah di uraikan diatas bila terjadi hadats kecil hendak shalat maka diwajibkan wudhu terlebih dahulu, maka jika terjadi hadats besar maka diwajibkan mandi terlebh dahulu.
Berdasarkan hadis-hadis yang shaheh ada 5:
*      Keluar maniy dengan syahwat, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga, baik laki-laki aupun perempuan.
*      Bertemunya dua khitan, maka wajib mandi meskipun tidak mengeluarkan maniy.
*      Berhenti dari haid, nifas, apabila haidnya berhenti maka wajib mandi dan darah yang keluar dari vagina sesudah melahirkan, berhentinya wajib mandi.
*      Mati, kematian termasuk hadats besarnamun yang wajib memandikannya adalah orang yang masih hidup.
*      Orang kafir yang masuk islam.
Tata cara mandi berdasarkan praktek Rasull SAW :

*      Membasuh 2 telpak tangan tangan 3x.
*      Membasuh atau membersihkan kemaluan dengan tangan kiri.
*      Wudhu dengan sempurna.
*      Menyela-nyela rambut dengan air 3x.
*      Meratakan air ke seluruh tubuh dengan mendahulukan bagian kanan bersama niat.
*      Menggosok-gosok basuhan.
*      Menyela-nyela lipatan tubuh.

F.   WAJIB DAN SUNNAT MANDI

Jika seseorang sedang berhadats besar maka orang itu wajib melakukan mandi besar terlebih dahulu.
Selain mandi wajib ada juga mandi sunnat yang dilakukan untuk ibadah tertentu, yaitu :
*      Hari jum’at, bagi yang hendak menunaikan shalat jum’at.
*      Dua hari raya yaitu : idul fitri dan dul adha.
*      Sesudah memndikan jenazah
*      Ketika hendak ihram dari miqak.
*      Ketika memasuki kota makkah.
*      Ketika hendak wuquf di arafah.


G.  TAYYAMUM
Secara bahasa adalah sengaja melaksanakan sesuatu. Secara istilah adalah menyapukan sha’ied kemuka dan dua tangan dengan niat mendapat kebolehan shalat atau ibadah lainnya.
Syarat dibolehkannya melakukan tayyamum :
*      Sakit.
*      Dalam perjalanan jauh.
Tata cara tayyamum :
*      Menepuk dua tangan ke sha’id atau debu.
*      Menyapukan dua telapak tangan tadi ke muka sambil berniat tayyamum.
*      Menepukan lagi dua tangan ke debu tapi bukan tempat debu yang pertama.
*      Menyapukan kedua tangan sampai ke siku atau cukup kesampai kepergelangan tangan.
Yang membatalkan tayyamum :
*      Apa saja yang membatalkan wudhu.
*      Apa saja yang membatalkan mandi.
*      Hilangnya sebab yang membolehkan tayyamum, maksudnya tayyamum itu akan batal apabila sudah ditemukan air disaat sedang tidak ada air, tapi shalatnya tidak perlu diulang lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar